Minggu, 02 November 2014

Remedial Bukan Kegagalan


Udah belajar dengan serius lalu mendapat nilai di bawah KKM. Hmm, pasti sangat menyedihkan dan sangat kesal. Namun kenapa perlu di sesalkan? nah, banyak sekali orang-orang yang salah mengartikan kata remedial. Remedial bisa di ibaratkan dengan di berikannya kesempatan kedua atau mengulang kembali sesuatu agar kesalahan yang sebelummnya dapat di tambal. Namun banyak dari mereka yang mengartikan remedial adalah suatu kegagalan. Padahal remedial merupakan kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan sedangkan kegagalan biasanya tidak di berikan kesempatan lagi. Selain itu peran guru dan orang tua juga sangat berperan dalam menjelaskan arti remedial tersebut. Ketika anaknya remedial, rata-rata orang tua akan memarahi anaknya dan mencaci maki anaknya dengan kata yang tak senonoh. Hal ini akan mempengaruhi psikologi seorang anak. Jarang sekali orang tua yang tidak menanyakan, "Kenapa kamu remed, susah dimana". Sangat amat jarang kalimat tersebut keluar dari ucapan orang tua. Guru, hampir tidak jauh beda dengan kebanyakan orang tua, yakni memarahi murid-muridnya yang remed. Tidak jarang mereka menduakan antara murid yang remed dan tidak remed atau yang pintar dengan yang belum pintar. So, lo yang murid juga gak perlu sedih kalau remed. Kalau lo dah belajar tapi remed yah ngapain sedih. Tinggal nanya ke guru apa yang membuat kita tidak mengerti. Kalau murid yang tidak belajar lalu remed, yah itu lain ceritanya hehe. Jadi gue berharap persepi orang tidak remedial itu di ubah. Contoh negara Findlandia, murid-muridnya juga banyak yang remed namun gurunya tidak memarahinya, gurunya terus mendukung muridnya untuk maju. Serta kata "KAMU SALAH" sangat haram di ucapkan di sekolah-sekolah Findlandia. Kata "KAMU SALAH" sangat membuat drop atau mental anak menurun. Sekali lagi, semoga persepsi orang tentang remedial di Indonesia cepat berubah.

0 comments:

Posting Komentar

 
;