Gue udah ngak sabar minta maaf ke JN di dalam bus. Gue berharap suasana di dalam bus masih sepi dari anak-anak osis khususnya pembina osis. Saat gue masuk ke dalam bus seketika terlihat sosok Ilham duduk di samping JN. Gue ngak ngerti apa yang di bicarakan Ilham sama JN. Tapi yang gue tau, mereka berdua tampak terlihat mesra. Nico juga terlihat ada di belakang bus dan sedang mendengarkan musik lewat hp nya.
Nico kayaknya lagi kurang peka sama kejadian saat itu. Dia terlihat biasa-biasa saja melihat kejadian tersebut. Sepertinya dia lupa. Gue masuk ke dalam bus lalu berpura-pura tidak terjadi apa-apa sambil berjalan mengarah ke Nico dan duduk di sampingnya.
"Nic, u kenapa diem aja dari tadi?" tanya gue ke Nico
"Gue udeh cape ndy" jawab Nico
"Hah? cape kenapa?" tanya gue
"Gue sebenarnya dari tadi udah coba misahin mereka berdua, tapi kayaknya mereka udah lengket banget dah" jawab Nico
Mendegar pernyataan dari Nico, gue rada kesel. Gue mencoba untuk melakukan sesuatu untuk menjauhkan Ilham dan JN. Tapi nyatanya gue ngak bisa berbuat apa-apa saat di sana. Mata gue memerah seketika, serasa ingin menangis. Karena JN, gue hampir menangis layaknya bayi. Gue ngak ngerti berapa persen cinta gue terhadap JN. Yang gue tau JN adalah cinta pertama gue. Gue gak rela kalau dia jatuh di tangan orang lain. Gue tau umur kita beda satu tahun, tapi cinta ngak mandang umur. Cinta hanya memerlukan perasaan dan kesetiaan.
Sempat gue pasrah dan bingung untuk melakukan apa. Gue hanya bisa melihat mereka berdua bermesraan di depan. Apakah memang gue ngak pantas buat JN? Nico juga terlihat sudah nyerah untuk membantu gue mendapatkan JN. Emosi gue seketika hampir lepas di saat itu. Gue mencoba untuk menyakinkan Nico untuk sekali lagi membantu gue mendapatkan JN.
"Nic beneran u ngak mau bantu gue lagi?" tanya gue dengan muka lemas
"Gue mau bantu cuman rada susah aja" jawab Ilham dengan muka serius
"Lalu sekarang gmana?" tanya gue
"Sekarang diemin Ilham aja dulu, belum tentu JN suka sama Ilham" jawab Ilham
"Ok deh" jawab gue
Satu per satu anak anak osis masuk ke dalam bus. Ilham dan JN yang tadinya duduk bersampingan sekarang sudah terpisah. Ilham berjalan ke belakang dan mengajak bercanda gue dan Nico. Kayaknya Ilham bahagia banget pas itu. Sikapnya yang awalnya dingin jadi lebih lepas ke kita berdua.
"Woy, ngapain lu berdua bengong?" tanya Ilham dengan suara bersemangat
"Ngak nih, badan lagi pegel aja" jawab gue
"Ooh oke" jawab Ilham
"Ilham ke luar bus yuk, ada sesuatu yang pengen gue omongin" ajak gue
"Hah? ngomong apaan? gue males keluar nih" jawab Ilham
"Penting banget ini" jawab gue
"Oke dah, bentar doang ye" jawab Ilham
Gue ngak ngerti apa yang ada di pikiran gue saat itu. Penuh emosi dan aramah yang lama di pendam. Gue rasanya pengen ngeluapin semua rasa emosi gue ke dia. Saat di luar bus tiba-tiba gue mendorong dia sampai badannya menabrak badan bus.
"Lu macem-macem sama gue hah!!!!?" tanya gue dengan nada kencang
"Maksud lo apa!!??" jawab dia dengan nada kencang
"Anjing lo!" teriak gue sambil mendorong Ilham
Prak! Ilham terjatuh dan menabrak badan bus. Seketika anak-anak osis keluar dari bus dan melihat kejadian di luar. Gue seketika meneteskan air mata karena saking emosinya. Gue memukul badan bus berkali-kali sambil menangis kencang. Gue ngak peduli siapa yang ada di sekitar gue sekarang. Mau JN, Pembina Osis, Bahkan anak-anak osis. Gue ngak peduli!
"Kalian berdua!! Diam!!" teriak pembina osis
"Saya sakit hati bu!" teriak gue lebih kencang dari pembina osis
Pembina osis dan anak-anak lain terdiam. Khususnya Ilham, dia tidak memberikan perlawanan sama sekali ke arah gue. Sepertinya dia tahu apa yang gue rasakan.
"Kamu sakit hati sama siapa!!!" teriak pembina osis
"ILHAM!!!" teriak gue
"Ilham kamu apa-apain Andy?" tanya pembina osis dengan nada tegas
"Ngak bu, tadi saya cuman bercandain dia doang" jawab Ilham
Ilham sepertinya tau perasaan yang gue rasakan saat itu. Dia mencoba membohongi pembina osis dengan kalimat-kalimatnya. Dia ngak pengen permasalahan antara gue dan dia terbongkar ke publik. Khususnya ke JN. Sepertinya yang tahu permasalan ini cuman Nico.
Nico kayaknya lagi kurang peka sama kejadian saat itu. Dia terlihat biasa-biasa saja melihat kejadian tersebut. Sepertinya dia lupa. Gue masuk ke dalam bus lalu berpura-pura tidak terjadi apa-apa sambil berjalan mengarah ke Nico dan duduk di sampingnya.
"Nic, u kenapa diem aja dari tadi?" tanya gue ke Nico
"Gue udeh cape ndy" jawab Nico
"Hah? cape kenapa?" tanya gue
"Gue sebenarnya dari tadi udah coba misahin mereka berdua, tapi kayaknya mereka udah lengket banget dah" jawab Nico
Mendegar pernyataan dari Nico, gue rada kesel. Gue mencoba untuk melakukan sesuatu untuk menjauhkan Ilham dan JN. Tapi nyatanya gue ngak bisa berbuat apa-apa saat di sana. Mata gue memerah seketika, serasa ingin menangis. Karena JN, gue hampir menangis layaknya bayi. Gue ngak ngerti berapa persen cinta gue terhadap JN. Yang gue tau JN adalah cinta pertama gue. Gue gak rela kalau dia jatuh di tangan orang lain. Gue tau umur kita beda satu tahun, tapi cinta ngak mandang umur. Cinta hanya memerlukan perasaan dan kesetiaan.
Sempat gue pasrah dan bingung untuk melakukan apa. Gue hanya bisa melihat mereka berdua bermesraan di depan. Apakah memang gue ngak pantas buat JN? Nico juga terlihat sudah nyerah untuk membantu gue mendapatkan JN. Emosi gue seketika hampir lepas di saat itu. Gue mencoba untuk menyakinkan Nico untuk sekali lagi membantu gue mendapatkan JN.
"Nic beneran u ngak mau bantu gue lagi?" tanya gue dengan muka lemas
"Gue mau bantu cuman rada susah aja" jawab Ilham dengan muka serius
"Lalu sekarang gmana?" tanya gue
"Sekarang diemin Ilham aja dulu, belum tentu JN suka sama Ilham" jawab Ilham
"Ok deh" jawab gue
Satu per satu anak anak osis masuk ke dalam bus. Ilham dan JN yang tadinya duduk bersampingan sekarang sudah terpisah. Ilham berjalan ke belakang dan mengajak bercanda gue dan Nico. Kayaknya Ilham bahagia banget pas itu. Sikapnya yang awalnya dingin jadi lebih lepas ke kita berdua.
"Woy, ngapain lu berdua bengong?" tanya Ilham dengan suara bersemangat
"Ngak nih, badan lagi pegel aja" jawab gue
"Ooh oke" jawab Ilham
"Ilham ke luar bus yuk, ada sesuatu yang pengen gue omongin" ajak gue
"Hah? ngomong apaan? gue males keluar nih" jawab Ilham
"Penting banget ini" jawab gue
"Oke dah, bentar doang ye" jawab Ilham
Gue ngak ngerti apa yang ada di pikiran gue saat itu. Penuh emosi dan aramah yang lama di pendam. Gue rasanya pengen ngeluapin semua rasa emosi gue ke dia. Saat di luar bus tiba-tiba gue mendorong dia sampai badannya menabrak badan bus.
"Lu macem-macem sama gue hah!!!!?" tanya gue dengan nada kencang
"Maksud lo apa!!??" jawab dia dengan nada kencang
"Anjing lo!" teriak gue sambil mendorong Ilham
Prak! Ilham terjatuh dan menabrak badan bus. Seketika anak-anak osis keluar dari bus dan melihat kejadian di luar. Gue seketika meneteskan air mata karena saking emosinya. Gue memukul badan bus berkali-kali sambil menangis kencang. Gue ngak peduli siapa yang ada di sekitar gue sekarang. Mau JN, Pembina Osis, Bahkan anak-anak osis. Gue ngak peduli!
"Kalian berdua!! Diam!!" teriak pembina osis
"Saya sakit hati bu!" teriak gue lebih kencang dari pembina osis
Pembina osis dan anak-anak lain terdiam. Khususnya Ilham, dia tidak memberikan perlawanan sama sekali ke arah gue. Sepertinya dia tahu apa yang gue rasakan.
"Kamu sakit hati sama siapa!!!" teriak pembina osis
"ILHAM!!!" teriak gue
"Ilham kamu apa-apain Andy?" tanya pembina osis dengan nada tegas
"Ngak bu, tadi saya cuman bercandain dia doang" jawab Ilham
Ilham sepertinya tau perasaan yang gue rasakan saat itu. Dia mencoba membohongi pembina osis dengan kalimat-kalimatnya. Dia ngak pengen permasalahan antara gue dan dia terbongkar ke publik. Khususnya ke JN. Sepertinya yang tahu permasalan ini cuman Nico.


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact